Pages

Monday, December 30, 2013

Sebuah Perjalanan Untuk Menemukan, dan (Benar-Benar) Pulang


Judul buku: BANGKOK: The Journal
Tebal halaman: viii + 436 halaman
Penulis: Moemoe Rizal
Editor: Ibnu Rizal
Tahun terbit: 2013
Penerbit: GagasMedia

Aku benci Ibu lebih tepatnya.
Banyak faktor yang bisa kubeberkan mengapa sepuluh tahun yang lalu aku pergi dari rumah dan meninggalkan ibu dan adikku. Namun, sepuluh tahun sudah mengikis alasan-alasan itu sehingga aku nggak mau menceritakannya lagi. Dan faktanya, aku nggak pernah menyesal meninggalkan mereka berdua (hal. 14).

Virus Komputer di 2059


Judul buku: Kemurnian Dalam Kematian
Jumlah halaman: 512 halaman
Penulis: J.D. Robb
Penerjemah: A. hardi Prasetyo
Tahun terbit: November 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Detektif, Thriller, Kriminal, Misteri, Roman


Troy Truehart, opsir muda yang berkat rekomendasi Letnan Eve Dallas, pindah ke Divisi Pembunuhan, menjadi saksi kunci kematian sadis pengedar narkoba yang mengincar anak-anak, Louie K. Cogburn. Tapi kematian sadis dengan ciri yang sama terjadi secara beruntun semenjak itu.

Wednesday, December 25, 2013

Sit Down (Reading) Comedy



Judul buku: SKRIPSHIT
Penulis: Alitt Susanto
Jumlah halaman: viii + 296
Editor: Syafial Rustama
Tahun terbit: 2012
Penerbit: Bukune
“Halo… nama gue Alitt… nama lo siapa?”
“Err… guwe Agil….”
“Ngambil Pendidikan Bahasa Inggris juga ya?”
“Iya… memang sama ya?”
“Iya, gue juga….”
“Btw, elho ngekos di mana?”
“Di Jalan Beo 33, deket kampus….”
“Wah… kebhetulan dhonk! Gue bhelom ndapet kos-kosan nih…. Guwe boleh numpang di kos elho dhulu?! BOLEH KAN YA?!”
Gue masih inget banget perkenalan pertama gue sama Agil, sahabat gue dari zaman OSPEK. Iya, waktu itu dia memang baru pindah dari Purworejo ke Jogja tanpa memperisapkan tempat tinggalnya nanti. Gendeng emang. Ngeliat tampangnya yang lumayan ganteng untuk model iklan shampoo (tentunya dia berperan sebagai ketombe), gue gak menaruh rasa khawatir bila nantinya pas tidur, gue digrepe-grepe sama dia. Tapi buat jaga-jaga, selama dia numpang, gue selalu tidur sambil megang tasbih di tangan kanan dan gergaji mesin di tangan kiri (hal. 3).

Sunday, December 15, 2013

What I Have in My 2014 TBBR Shelf? (Temporary Planning)

Klik gambar untuk melihat info lengkap tantangan ini!
I didn't buy lot of books this year, actually. Tapi tetap saja, di lemari saya ada timbunan. Sementara buku baru terus bermunculan, hampir setiap saat. Dan timbunan saya beranjak kadaluarsa :'( Maka resolusi 2014 saya pun bertambah satu:
Menghabiskan timbunan buku 2013

Wednesday, November 27, 2013

Ini (Tentang) Bulutangkis & Ini (Tentang) Indonesia, Juga Tentang Seorang Pemimpi Kecil yang Besar Sekali

Book title: 2
Author: Donny Dhirgantoro
Page: vi+418 pages
Year Published: 2011
Publisher: Grasindo

Trilogi Laskar Pelangi Masih yang Terbaik

…lebih enak jadi orang gendut, karena ukuran hatinya pasti lebih besar (70)
Karena melihat Papa, Mama, dan kak Gita bahagia setelah kemenangan Susi Susanti di Olimpiade 1992, Gusni juga ingin menjadi pemain bulutangkis. Alasannya sederhana, Gusni ingin melihat Papa, Mama, dan kak Gita bahagia. Gusni yang polos tak tahu disebut apa keinginan itu, hingga ia bertemu Harry setelah drama rebutan onde-onde di kantin sekolah.
"Gusni-Gusni cita-citanya apa?"
"Aku gak punya cita-cita, emang cita-cita itu apa?" Gusni balik bertanya.
"Kata Papa Harry, orang hidup itu harus punya cita-cita... kalau kamu gak punya cita-cita, berarti kamu nggak hidup, kamu orang mati namanya...."
"Aku nggak punya cita-cita, tapi aku hidup... tuh...." (hal. 71).

Monday, November 25, 2013

Perjalanan Menyembuhkan Luka

Self doc
Book title: Last Minute in Manhattan
Author: Yoana Dianika
Editor: Yulliya Febria & Widyawati Oktavia
Page: Paperback 408 pages
Year published: Desember 2012
Publisher: Bukune
Seharusnya, cinta bisa membuat seseorang merasa nyaman. Jika cinta sudah membuatmu merasa terluka, kau tidak pantas mempertahankannya—apa pun alasannya (hal. 12).
Callysta “Cally” Nararya diduakan oleh Abram. Merasa kecewa dan sakit hati, Cally tidak menolak tawaran ayahnya untuk menenangkan diri sementara waktu di Hermosa, California, tepat setelah acara kelulusan sekolah. Cally yang patah hati dua kali—pertama, luka akibat ditinggalkan ibunya yang menikah lagi belum sembuh, kedua, diduakan oleh Abram—memutuskan untuk tidak langsung berkuliah seperti sahabat-sahabatnya. Menurutnya, belajar tidak harus dilakukan di universitas. Cally belum memastikan mimpinya. Maka bulatlah keputusan Cally untuk berangkat ke Amerika.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...